Cinta Ala Mereka

Prepared by Client:
Roy Saputra (@saputraroy)

“Eneng kedinginan?”

“Dikit, A’.”

“Maafin Aa’ ya, Neng. Aa’ cuma bisa ngajak Eneng ke jembatan layang kayak gini.”

“Ga apa-apa atuh, A’. Gini aja Eneng juga udah seneng kok.”

Sebutlah Aa’ dan Eneng. Dua sejoli yang sedang jatuh cinta, menghabiskan malam minggu dengan berdua-duaan naik motor lalu nangkring di puncak jembatan layang. Padahal pacaran model begini sangatlah berbahaya. Ga jarang polisi menggelar razia muda-mudi yang pacaran di jembatan layang untuk menghindari terjadinya kecelakaan. Namun tetap saja masih banyak pasangan yang memadu kasih seperti ini. Tak terkecuali, Aa’ dan Eneng.

Entah apa yang Aa’ dan Eneng cari di sana. Mungkin ingin menikmati pemandangan kerlap-kerlip lampu gedung-gedung bertingkat, atau untaian lampu kendaraan yang meliuk-liuk di tengah macetnya ibukota. Mungkin ingin merasakan apa yang orang rasakan ketika sedang makan malam mewah di sebuah restoran bertema roof top.

Situasi di mana Aa’ berada paling dekat dengan kata roof top adalah ketika Eneng sedang asik menonton sinetron kesayangan di rumah majikannya lalu hujan mengguyur deras. Eneng merengut saat wajah Haji Muhidin menjadi buram dan samar. Atas nama cinta, Aa’ pun naik ke atas genteng dan membetulkan arah antena, meski itu dengan risiko tersambar gledek yang bisa membuat badan jadi tidak enak.

Di temaram lampu jembatan, Aa’ dan Eneng berpelukan. Saling menghangatkan badan, melawan angin malam yang berhembus dengan kecepatan tinggi. Malam itu, Eneng memang hanya mengenakan cardigan warna hitam. Cardigan yang dibelikan Aa’ di ITC dekat rumah dua hari lalu itu ga mampu menahan angin yang dinginnya mulai menusuk-nusuk tulang Eneng. Cardigannya tipis, setipis penghasilan Aa’ yang masih di bawah UMP.

Aa’ berinisiatif melepaskan jaket bertuliskan ‘OLI BAGUS? YA OLI TOP TWO!’-nya dan memasangkannya ke punggung Eneng. Berharap kehangatan yang sempat ia rasakan sebelumnya dari jaket, bisa menular ke badan Eneng.

“Masih dingin ga, Neng?”

“Udah mendingan, A’. Makasi ya, A’.”

Keduanya diam dalam senyuman. Kembali duduk tenang menghadap jalan raya yang terbentang di bawah. Menyaksikan geliat jalanan ibukota di akhir pekan dengan tangan saling menggenggam.

“Eh tuh, tuh. Liat deh tuh, Neng. Ada yang berantem,” tunjuk Aa’ dengan dagu ke arah mobil di bawah yang tiba-tiba saja menepi.

Seorang gadis yang tinggi menjulang tampak mengucek-ngucek mata dan membanting pintu mobil setelahnya. Rambutnya yang tergerai, tertiup acak ketika mobil melaju dengan kecepatan tinggi, menjauh dari sang gadis yang terlihat mengacungkan jari tengah. Lalu ia mencopot dan menenteng high heels-nya. Seakan tak ingin sepatu kesayangannya menginjak kerasnya aspal ibukota.

“Aa’ jangan kayak gitu ya?” tanya Eneng dengan suara lembut.

Aa’ mengerutkan dahinya, “Gitu gimana, Neng?”

“Kayak mereka. Berantem terus Eneng diturunin di tengah jalan. Terus ditinggalin.”

Aa’ membetulkan posisi duduknya, “Ga mungkin atuh, Neng. Satu, Aa’ teh ga punya mobil keren kayak tadi. Ini aja motor masih belum beres cicilannya. Dua, Eneng teh juga ga punya sepatu berhak tinggi. Kurang keren aja kayaknya Neng kalo Aa’ turunin terus Eneng nenteng-nenteng sendal jepit swallow. Tiga, Eneng kan tau kalau Aa’ teh… cinta mati sama Eneng.”

Eneng hanya bisa tersipu meski ia kurang setuju dengan point nomor dua. Baginya, menenteng sendal jepit bisa saja terlihat keren apabila ada logo LV seperti tas kawe yang selalu dibangga-banggakan majikannya.

“Kenapa mereka berantem ya, A’? Kayaknya teh mereka punya semua. Mobil ada, uang juga pasti ada. Yang gadis juga, euleuh-euleuh, geulis pisan. Kurang apa ya mereka?”

“Aa’ juga ga tau, Neng. Mungkin mereka merasa kurang di tengah kelebihan, merasa tidak puas di kala kecukupan.”

“Kita jangan gitu ya, A’?” tanya Eneng sambil merangkul lengan pria di sampingnya.

Aa’ tersenyum, “Engga, Neng. Engga akan.”

“A’,” panggil Eneng, pelan.

“Ya, Neng?”

“Aa’ kapan mau nikahin Eneng? Dulu kan pernah janji,” tanya Eneng sambil memilin-milin ujung cardigannya.

Cinta adalah alasan kenapa Aa’ ingin segera menikah dan menua bersama Eneng. Namun penghasilan yang masih di bawah UMP membuat Aa’ agak berat menjawab pertanyaan tadi. Untuk menabung saja susah, bagaimana bisa menikah?

Ternyata cinta saja tidak cukup. Tidak akan pernah cukup.

“Eh, hm… Gimana ya, Neng,” Mata Aa’ menerawang entah ke mana, “Penghasilan Aa’ masih pas-pasan.”

Eneng menghembuskan napas panjang dan memasang senyum setelahnya, “Ya udah, ga apa-apa, A’. Ga usah dipaksa. Nanti kalo ada rejeki aja ya. Eneng bantu doa.”

Mereka terdiam. Hanya mata yang melemparkan pandangannya ke arah jalan raya. Warna kuning keemasan dari gemerlapnya lampu-lampu ibukota bagai menghipnotis keduanya yang sedang mengosongkan kepala. Berharap ada pencerahan yang mampu mendefinisikan ulang kata sejahtera.

“HATCHIM!”

“Aduh, A’? Aa’ ga apa-apa?” Eneng spontan melepaskan jaket ‘OLI BAGUS? YA OLI TOP TWO’ dan mengenakannya ke Aa’.

Aa’ menggosok-gosok hidungnya, “Sepertinya mau pilek aja. Ga apa-apa kok, Neng.”

“Gara-gara benerin antena waktu hujan kemaren ya, A’?” Sesaat, Eneng merasa tak enak hati.

“Yang penting kan Haji Muhidinnya jadi bening. Hehehe.”

“Maaf ya, A’.” Eneng merangkul kembali lengan pria di sampingnya. Kali ini lebih kencang dari sebelumnya.

“Maaf? Maaf kenapa, Neng?”

“Eneng suka ngerepotin. Eneng sering minta ini itu. Eneng kadang nyusahin. Tapi Eneng ga bisa ngasih apa-apa juga ke Aa’. Eneng…,” Eneng tercekat sejenak, “Eneng cuma bisa ngasih hati Eneng buat Aa’. Maafin Eneng ya, A’.”

“Ga apa-apa atuh, Neng. Gini aja Aa’ juga udah seneng kok.”

Di pinggir jembatan layang, di atas kendaraan roda dua, di tengah sibuknya ibukota, dua sejoli itu berpelukan. Bergenggaman tangan di sederhananya malam minggu. Menghabiskan malam dengan bertukar hangatnya tubuh. Menikmati cinta a la mereka.

Cinta yang… gini-aja-juga-udah-seneng-kok.

—THE END—

Fix You – Part 2

Prepared by Client:
 Sarah Puspita (@sarahpuspita)

Sebelumnya pada cerita Fix You Part 1. Ketika berada dalam stasiun MRT yang dipadati para penduduk maupun turis asing, mataku menangkap seorang lelaki yang sedang duduk di sana. Orang Indonesia juga, sama denganku yang sedang melancong ke negeri singa ini. Kami berbincang sesaat, ia menjelaskan alasannya traveling.

“Saya justru sedang berlari. Saya ke sini untuk mengambil sebuah keputusan berat, melupakan seseorang.”

“Ketika takdir mempertemukan kita lagi, saya benar-benar berharap akan melihat senyummu yang hilang.”

***

Jakarta, Sebuah Rumah Sakit, pukul 17.35

“Duluan ya Jes, sekali lagi selamat, salam buat Adam.” ujarku sambil tersenyum. Setelah bercipika-cipiki, aku keluar dari kamar perawatan, kemudian menuju kafetaria, sambil menimbang-nimbang, akan macetkah kalau pulang sekarang?

Melewati UGD, aku memperhatikan seorang pasien yang baru masuk. Terbaring lemas di sebuah brankar. Parasnya tak terlihat, tertutup oleh tubuh seorang suster. Korban kecelakaan, kah? Aku memalingkan muka. Takut akan melihat darah, luka atau sejenisnya. Lalu pandanganku menangkap kaki pasien di atas brankar itu.

Sandal jepit hitam itu…

***

Aku menyusuri koridor rumah sakit dengan segelas teh hangat yang kubeli dalam perjalanan. Masih dengan pergumulan yang sama, untuk apa aku ke sini? Memuaskan rasa penasaran yang membekas? Atau menoleh ke belakang dan menagih permintaan yang pernah terlepas?

Bagaimana aku menemukannya di rumah sakit sebesar ini? Lagipula…

Dari mana aku akan mulai?

Sambil mempertimbangkan untuk melontarkan pertanyaan kepada suster cantik di meja receptionist yang ada di hadapanku, aku memilih duduk di ruang tunggu rumah sakit dan menikmati cangkir tehku. Mempersiapkan berbagai pilihan jawaban kalau saja kami bertemu dan ia masih mengingatku.

TING!

Elevator  yang berada tak jauh dariku berbunyi. Betapa sepinya tempat menyeramkan ini saat bukan jam besuk, sampai aku bisa mendengar jelas dentingan elevator atau sekedar detak jam dinding di sudut ruangan.

Aku menoleh, membawa sejuta harapan ialah yang akan muncul dari balik pintu besi. Tapi bukan, dan terulang sampai dentingan yang kelima. Aku menarik nafas berat. Mulai menyesali kebodohanku. Bagaimana mungkin aku berharap takdir akan mempertemukanku dengannya di rumah sakit ini? Sekali lagi aku menghela nafas. Berat rasanya mengetahui ia mungkin ada di bawah atap yang sama denganku saat ini, tapi aku tidak memiliki keberanian atau kesempatan untuk menemukannya.

Aku bangkit untuk membuang gelas tehku yang masih separuh. Membulatkan tekad untuk menyeret kakiku pulang. Di depan tempat sampah, aku bertemu seorang suster yang membawa sekantong sampah untuk dibuang. Karena transparan, aku bisa dengan jelas memperhatikan isinya. Sandal jepit hitam. Hanya sebelah, tapi persis dengan yang kuingat semalam.

“Suster…”

“Ya?”

“Sandal itu…”

“Oh sandal jepit ini? Sudah putus, Mbak…” jelasnya sambil mengerutkan kening. Bingung karena aku jelas tidak nampak seperti pemulung.

“Eh iya, hmm… Suster tau pemiliknya kenapa?”

“Oh, semalam kecelakaan, Mbak, diserempet motor, tapi nggak kenapa-kenapa. Cuma persendian kaki kanannya…”

“Kenapa?” Aku memotong penjelasanya karena rasa penasaran yang melanda. Aku mulai merasa telapak kedua tanganku berkeringat. Ciri fisik yang muncul, ketika aku sedang gugup.

“Saya kurang ngerti, tapi kayanya dirujuk sama dokter untuk operasi… Memangnya kenapa, Mbak?”

“Dia… mungkin orang yang saya cari, suster…” jawabku pelan.

Kening sang suster terlipat. Mukanya kebingungan.

“Suster tau dia akan dioperasi di mana? Atau dia di rawat di mana sekarang?”

Kali ini sang suster menatapku dengan pandangan seolah aku akan membunuh salah seorang pasiennya. Aku memaksakan senyum, mencoba melunakkan pandangannya. Aku memang melanggar aturan, tapi itu karena aku sedang berusaha mencari informasi. Setidaknya, jika pemilik sandal jepit hitam yang sudah putus dihadapanku ini bukan dia, mungkin hatiku akan jera. Rasa keingintahuan ini… mungkin akan hilang. Mungkin.

“Saya nggak bisa kasih tau, Mbak…”

Sudah kuduga. Aku hanya mengangguk. Kemudian mengucapkan terima kasih. Paling tidak aku tahu, ia yang aku cari tidak lagi mengenakan sandal jepit hitam.

“Tapi mungkin ia akan dioperasi di Penang…”

Aku masih mendengar suster mengucapkan kata-kata itu. Aku terdiam. Lama membeku di tempatku.

“Suster, namanya?”

Yang menyaksikanku hanya tempat sampah. Sang suster sudah menghilang entah ke mana.

***

Aku menyusuri koridor rumah sakit sekali lagi. Berjalan menuju pintu keluar, sambil mengumpulkan pecahan akal sehatku. Menyesali kesempatan yang sekali lagi pergi. Meminta hatiku untuk menyerah.

Kakiku yang hanya terbalut sandal jepit berwarna kesukaanku, pink, melangkah tanpa arah. Sampai aku menyadari telah melewati kafetaria rumah sakit sekali lagi.

“When you try your best but you don’t succeed…”

Aku menengok ke arah kafetaria. Tiba-tiba ada lagu itu, yang mengalun pelan di relungku. Mengiringi pandanganku pada seseorang, yang saat ini duduk di dalam kafetaria seorang diri.

Entahlah, tapi hatiku terasa bahagia. Senyum terlukiskan di wajahku tanpa kusadari.

Aku memutuskan untuk memasuki kafetaria. Ia masih diam. Sama seperti pertama kali aku bertemu dengannya. Masih menahan sakit. Hanya sumbernya yang berbeda.

Waktu itu hatinya. Hari ini, fisiknya. Aku memberanikan diri mengambil tempat di hadapannya. Ia mendongak.

“Kamu…”

Aku tersenyum.

“Saya Sari.”

((bersambung))

Sang Penari

Tags

, , , ,

Prepared by: MH
Reviewed by: GP

Dua puluh menit menjelang pukul 6 sore!

Aku bergegas memacu kecepatan langkahku, setelah turun dari kendaraan yang aku sewa selama berada di Bali beberapa harike depan. Setengah berlari aku menuju loket, untuk kemudian mengeluarkan 3 lembar pecahan Rp5,000 sebagai harga yang harus dibayar untuk karcis memasuki Pura Uluwatu.

Setelah sampai Ngurah Rai jam 4 tadi, Pak Made, supir yang sudah menjadi langgananku itu segera membawaku ke Uluwatu. Denpasar yang kini macet dipadati kendaraan, membuat perjalanan kesana memakan waktu lebih lama dari biasanya.

Kunjunganku ke Bali kali ini disertai misi penting. Sebuah kejutan! Kekasihku yang merupakan penduduk Bali hari ini berulang tahun.

Namaku Lily. Aku menetap di Jakarta. Dan pacarku, Putu, tinggal di Bali. Di desa Pecatu tepatnya. Sudah setahun ini kami menjalani hubungan jarak jauh, atau yang keren disebut LDR.

Aslinya aku ini memang wanita manis dan romantis, meski terpisah jarak, bukan halangan bagiku untuk menyenangkan kekasihku itu. Sudah sebulan aku mempersiapkan kedatangan mendadakku ke Pecatu, tepat jam 6 sore, di mana Putu sudah bersiap dengan kostumnya.

Aku akan duduk di barisan paling depan bangku penonton, menyaksikan pertujukkan Kecak Dance, dimana Putu adalah salah satu penarinya. Tapi bukan salah satu dari 70 penari pria bertelanjang dada yang meneriakkan “Cak! Cak!” itu. Dia adalah pemeran utama sendra tari Ramayana yang aksinya nanti akan diiringi oleh tarian Kecak.

Tarian kecak adalah salah satu budaya kebanggaan di Bali yang dapat dinikmati di berbagai tempat, namun di Uluwatu ini yang paling ramai dikunjungi. Hal itu dikarenakan pertunjukannnya yang bertepatan dengan matahari terbenam. Sehingga, ratusan pasang mata tidak hanya disuguhi tarian yang unik, tetapi juga pemandangan langit jingga yang luar biasa indahnya.

Sunset at Uluwatu

Sunset at Uluwatu

Tiket untuk menonton pertunjukkan tersebut sebesar Rp70,000. Dan tiketku, sudah dipersiapkan Pak Made agar ketika sampai tidak pusing dengan urusan tiket.

Rencanaku, ketika sudah duduk dengan tenang aku akan memberitahukan perihal keberadaanku ini. Aku sudah hafal jadwal pertujukan Putu, yang tampil sekitar 10 menit setelah para kecak dancer meriuhkan panggung yang terletak di ujung bukit ini. Aku sangat tidak sabar!

Aksi datang mendadak ke kota masing-masing sebenarnya bukan yang pertama terjadi bagi kami. Sewaktu awal kami ‘jadian’, dia lah yang pergi ke Jakarta. Ia menghubungiku kalau sedang berada di Jakarta dan memintaku menemuinya. Alasan saat itu sih ingin liburan karena bosan dengan kota pantai dan sesekali ingin bertemu kebisingan ibu kota. Lalu ia memintaku menjadi tour guide selama di Jakarta. Ah modus! Aku sudah tahu kalau ia sengaja ingin menemuiku. Haha. GR berat ya aku? Nyatanya, ia menyatakan perasaannya padaku yang tanpa keraguan sedikitpun, langsung aku iyakan!

Pertemuan pertama kami sekitar 3 bulan sebelum ia ‘nembak’ aku setahun lalu itu. Kami justru berkenalan di salah satu kafe di Seminyak. Kami berbincang, bertukar kotak, dan memanfaatkan perjumpaan berikutnya untuk saling mengenal lebih dekat. Benar sekali kata pepatah, distance is just a damn number when you’re in love. Meski aku berada di waktu Indonesia bagian barat, dan ia di bagian tengah, toh komunikasi kami tetap lancar.

“Mbak Lily, mari silakan saya antar ke tempat duduk. Pak Made sudah pesan sama saya supaya Mbak Lily duduk paling depan katanya.” Bu Kadek, salah satu pelayan Pura yang tugasnya menjadi usher para turis yang datang untuk menonton. Ia sudah menungguku di pintu panggung rupanya.

“Terima kasih Bu. Hmmm, aku bisa minta tolong? Ibu saja yang beritahu Putu ya, kalau aku ada di bangku penonton. Please…”

Bu Kadek mengangguk menandakan setujunya pada permintaanku. Wanita bertubuh gempal itu pun menghilang ke balik panggung, tempat para penari sedang bersiap.

Tak lama, sebuah pesan aku terima. Dari Putu!

“Kamu sinting! Kamu beneran nonton aku sekarang? Alasan HP lowbat sampai enggak bisa dihubungi, ternyata lagi buat kejutan! Sinting!”

Surprise! Happy Birthday, Putu sayang. Good luck on your performance by the way. I’m watching you.” balasku.

Pukul 6 tepat, tarian kecak akhirnya dimulai dengan penyalaan api oleh seorang pendeta pria.

Cak. Cak. Cak. Cak. Cak. Cak.

70 pria memasuki panggung, semuanya bertelanjang dada dan kaki. Tangannya terangkat ke udara sambil membentuk formasi lingkaran. Mereka kemudian menduduki panggung beralaskan pasir dan mengerumuni obor yang mengilat-ngilat.

Kecak merupakan salah satu tarian sakral yang penarinya seolah kerasukan roh ketika berkomunikasi dengan para Dewa atau leluhur. Setelah 10 menit berlalu, lalu dimulailah adegan pertama Epos Ramayana. Rama dan Sita memasuki panggung.

“Itu Putu kuuuuu.”pekikku dalam hati. Ia terlihat tampan dalam balutan busana Rama. Brewok dan kumis terlukis di wajahnya, ia jadi terlihat sangat maskulin. Berbekal kamera dengan lensa jarak pandang yang cukup jauh, aku berhasil mengabadikan gerak geriknya.

Kuakui, aku sedikit cemburu melihatnya menari bermesraan dengan pemeran Sita. Untungnya sang pemeran wanita utama tersebut sudah menikah, jadi tak ada alasan bagiku untuk insecure mengetahui bahwa pacarku setiap hari melenggak-lenggok bersama wanita lain.

Adegan demi adegan dipergelarkan bergantian. Aku mencoba tetap fokus menikmati tarian yang justru lebih disukai oleh turis asing daripada turis lokal. Menurutku, tanpa diselipi cerita Ramayana, tari kecak ini terasa membosankan. Tak ada alunan musik, dan bukan juga acapella. Untungnya, peran Hanoman si kera sakti yang jahil menggoda penonton, cukup yang menghibur. Beberapa kali aku pun terbahak melihat aksinya.

Tapi tentu saja, Putu lah yang paling aku kagumi. Ekspresinya luar biasa, terutama pada saat perpisahan dengan Sita. Dia melakoni perannya dengan mendalam. Ah, aku tersentuh dibuatnya. Sita pun sampai mengeluarkan air mata. Mengharukan. Dan ketika akhirnya Hanoman berhasil membantu Rama menyelamatkan Sita dari Rahwana, para penonton pun ikut bersorak gembira.

Satu jam lamanya, akhirnya tugas Putu selesai. Cuaca sudah sangat gelap dan hanya bercaya bulan dan dibantu dengan penerangan yang sangat minim. Putu belum dapat menghampiriku, karena para pengunjung banyak yang menyerbunya untuk sesi foto bersama.

Aku terdiam terpaku menyaksikannya, bibirku menyunggingkan senyuman karena bangga melihat kesuksesan pujaan hatiku. Selang beberapa menit kemudian, akhirnya ia berhasil meloloskan diri dari kerumunan orang dan menghampiriku.

“Aku bahagia kamu datang, ini kejutan luar biasa. Terima kasih ya, sayang.” ujarnya dengan mengenggam jemariku. Kami berdua tampak kikuk, tak seperti layaknya sepasang kekasih yang lama tak bertemu dan melepas rindu.

Rasanya aku ingin sekali memeluknya, dan menarik wajahnya mendekat, lalu aku serang bibirnya dengan ciuman bertubi-tubi. Tapi aku harus bisa menahannya sekuat mungkin, aku sadar hubungan yang kami jalani masih tabu di budaya kami. Apa jadinya kalau teman-teman penarinya, para pengunjung, usher, dan penduduk Pecatu yang taat beragama melihat aku dan Putu, dua wanita, saling berciuman.

Kami bisa dimaki!

“Aku ganti baju dulu ya, setelah itu kita segera kabur dari sini.”

Putu Yani, kekasihku, wanita elok yang malam ini terlihat gagah dengan cemongan hitam menyerupai kumis di wajahnya, karena tuntutan peran sebagai Rama. Ia berjalan cepat memunggungiku menuju ruang ganti.

Dia lah seorang yang sudah mengobati hatiku yang hancur berantakan oleh makhluk yang bernama pria. Sosok Putu yang lembut tak akan pernah menyakiti tubuhku seperti yang pernah dilakukan laki-laki. Namun jiwa tomboi dalam dirinya membuatku merasa aman terlindungi.

Sang penari itu, telah meluluhlantakkan duniaku.

Sepatu untuk Titanium

Tags

,

Prepared by Client:
Cynthia Febrina (@cyncynthiaaa)

 

‘Lo masih mau nyari sesuatu ?’ Tanya Saras membuyarkan lamunanku yang sejak tadi terbayang akan sesuatu. Ya, memori itu lagi, sepuluh tahun silam. Entahlah, memori itu selalu datang disini, beresonansi di tempat yang serupa.

‘Eh, enggak Ras, kayaknya belanjaan gue udah cukup banyak.’ Aku berusaha menjawab sekalem mungkin. Betul sekali, aku adalah Tita, si jago berekspresi. Pikiranku tengah berkecamuk oleh banyak hal tapi kurasa memperlihatkan itu pada Saras bukanlah hal yang tepat.

‘Lo lagi kenapa sih, Ta ? Akhir-akhir ini lo agak pendiem deh kalo gue perhatiin.’ Sepintar apapun aku menyembunyikan perasaan, Saras lebih pintar dalam menerka keadaan. Yeah, wanita memang peka.

‘Enggak kok Ras, semuanya baik-baik aja. Take it easy.’ Aku mencoba membuat raut muka sumringah dan sepertinya Saras cukup percaya.

‘Okee, kalo gitu kita langsung balik aja ya? Gue juga udah pegel-pegel nih. Lumayan juga belanja belinji kita hari ini, ngabisin duit ternyata asyik ya.’ Saras meletakkan sepasang sepatu converse yang hampir dua jam lebih membuat kami bolak-balik ke toko ini. Membuatku tenggelam pada memori itu lagi.

‘Yaah, asal lo giat aja nyari duitnya lagi. Anyway, itu sepatu nggak jadi lo ambil?’ Hampir semua toko sepatu di mall ini kami jelajahi, kalau sampai Saras nggak jadi beli… Sungguh, kamu tega, Ras.

‘Lumayan mirip sih sama sepatu conversenya Kirsten Stewart yang dia pakai di launching film Breaking Down, hmm tapi nggak jadi deh..’ Saras si wanita tega menjawab dengan muka polos.

‘Beneran nggak jadi??’ Aku melongo.

‘He-eh, enggak, harganya kemahalan..’ Saras terkekeh.

‘Lo mesti dapet suami multitalented yang bisa disuruh bawain barang belanjaan, nyupir, sama bayarin belanjaan lo sekalian. Yuk, buruan cabut!’ Aku menarik lengan Saras yang tertawa puas diiringi dengan cibiran si mbak penjaga toko yang merasa sudah diberi harapan palsu. Bagaimana tidak? Sudah hampir lima kali kami kembali ke toko itu, ditambah Saras yang sudah berkali-kali mencoba memakai sepatu converse barusan dan dengan tidak tahu malunya sudah minta dicarikan ukuran yang pas dengan kakinya.

‘Ta, lo nggak marah kan? Hehe, sini deh gue yang nyetir kalo lo marah. Kan enak nanti tinggal duduk sama tidur selagi gue nyetir.’ Saras merayu gue yang masih manyun.

‘Enggak, gue nggak percaya sama lo.’ Jawab gue sedikit ketus. Seumur persahabatan kami yang hampir delapan tahun, tidak pernah sampai hati aku bisa marah padanya. Tidak juga kali ini.

‘Yaudah kalo begitu, lo yang nyetir, terus gue tinggal bobok, hehe.’

Tawa pun pecah diantara kami. Aku menyalakan mesin mobil dan memutar-mutar disc player, mencari lagu yang asyik untuk dijadikan teman dikala menyetir. Mengantar Saras si tega ini sampai rumah dengan selamat.

‘Ta,’ panggil Saras perlahan. Aku membalas dengan menengok ke arahnya sebentar. Pantang bagiku mengobrol ketika sedang berkendara. Selain karena memang berbahaya, kemampuan menyetirku masih di bawah rata-rata.

‘Lo kenapa sih kalo belanja nggak pernah beli sepatu?’

‘Karena.. karena nyokap gue yang selalu beliin. Rutin, jadi gue nggak perlu repot beli sendiri.’ Tenggorokanku tercekat.

‘Waah, baik banget ya nyokap lo. Hm, Ta?’ Saras menatap gue yang tengah asyik menyetir. Berharap ia akan mendapatkan jawaban lain.  Agak risih diberi tatapan seperti itu, aku pun menoleh.

‘Ya, Ras? Jangan liatin gue kayak gitu!’

‘Kalau ada sesuatu terjadi sama lo, lo bilang sama gue ya. Lo percaya gue kan?’

‘Ya Ras, gue baik-baik aja kok.’ Aku menarik napas panjang, menoleh padanya dan tersenyum setenang mungkin.

I trust you, Ras. But, people usually have some unspoken words. Seperti ketakutanku membeli sepatu.

***

Sesampainya di rumah, aku berlalu menuju kamar Ibu. Ibu sedang istirahat. Rasanya tenang sekali melihat beliau tertidur pulas seperti itu. Aku menghampiri Ibu, mengecup keningnya, lama. Mimpi yang indah Bu, bisikku. Ibu sedikit menggeliat kemudian tertidur kembali. Mungkin Ibu tahu kedatanganku namun tak cukup kuat menahan kantuk untuk membuka mata dan terbangun.

Aku lekas berdiri di samping tempat tidur Ibu, hendak meninggalkan kamar. Tiba-tiba aku merasa kakiku  menendang sesuatu. Ternyata ada kantung plastik cukup besar di bawah tempat tidur Ibu. Tanpa pikir panjang, aku mengambil kantong plastik besar yang berisikan dua buah kerdus itu.

Ibu baru saja melakukan perjalanan bisnis ke Hongkong. Bisnis peninggalan ayah. Karena bisnis ini berskala besar dan butuh seorang pemimpin yang menggantikan posisi ayah, akhirnya Ibu lah yang sekarang memegang kendali. Berjuang demi kelangsungan hidup keluargaku. Sebenarnya Ibu tidak perlu repot-repot bekerja, toh bisnis seperti ini tentunya mempunyai dewan direksi yang siap menggantikan posisi ayah. Namun ibu bilang, apa yang dirintis ayah sejak dulu tak bisa begitu saja dipegang oleh orang lain. Aku setuju.

Penasaran akan isinya, aku membuka kantong plastik dan mengeluarkan isinya. Ah, benda ini lagi. Kedua kerdus tersebut berisikan dua pasang sepatu. Benda ini adalah oleh-oleh wajib yang selalu Ibu berikan untukku setiap kali melakukan perjalanan bisnis. Aku penggila sepatu. Sejak berumur lima tahun aku sudah mempunyai lemari koleksi sepatuku sendiri. Dulu, ayah yang selalu membawa sepasang sepatu setiap kali pulang setelah melakukan perjalanan bisnis. Koleksi sepatuku ratusan. Yeah, call me daddy’s little princess.

Aku mencintai sepatu dengan alasan. Dulu, ayah pernah menceritakan aku sebuah dongeng. Ayah yang kala itu hampir setiap bulan pulang-pergi ke Australia bercerita bahwa orang Australia mempunyai kepercayaan aneh untuk menolak roh-roh jahat. Penduduk Australia di masa lalu suka menyembunyikan sepatu di berbagai sudut rumah yang tersembunyi, seperti loteng dan tempat lainnya1. Aku sangat mempercayai dongeng yang diceritakan ayah. Aku percaya setiap kali aku punya sepatu maka rasa sakitku akan menghilang. Sejak saat itu, ayah senang sekali membelikan aku sepatu.

Tradisi itu terhenti sepuluh tahun yang lalu. Ayah terserang penyakit stroke dan lumpuh seketika. Beruntung ayah masih bisa berbicara. Namun bagian tubuh ayah sebelah kanan sudah tidak dapat berfungsi. Tak lama setelah peristiwa itu,  ayah menjauh. Menjauhiku. Aku pernah curi dengar pembicaraan ayah bersama ibu di suatu malam.

‘Sikapmu berubah sama Tita. Kamu tahu anak kita sangat sedih melihat kamu seperti ini.’ Terdengar suara ibu terisak. Suasana hening sejenak.

‘Nama anakku Tita, Titanium. Kamu tahu apa artinya? Titanium is a chemical element. It is strong, lustrous, corrosion-resistent with a silver color. Aku mau anakku seperti Titanium, kuat dan tidak menyerah dalam menghadapi kesulitan dalam hidup.’ Ayah menarik napas panjang, kemudian terisak. Ayah menangis.

Tak kuasa mendengar tangisan ayah dan ibu aku pun berlari menuju kamar. Aku menangis. Teringat dongeng ayah, aku mengumpulkan semua sepatuku dalam kantung plastik kemudian melemparnya ke dalam gudang. Ayah berbohong. Sepatu tak membuatku jauh lebih baik. Aku hanya menginginkan ayah, bukan yang lain. Bukan sepatu.

Aku tersenyum simpul mengingat kembali kenangan itu. Semuanya gara-gara Saras. Kalau bukan karena dia yang mengajakku berkeliling menjelajahi toko sepatu, aku tidak akan kembali memutar memori ini. Aku memasukkan kembali kedua pasang sepatu dari Ibu ke dalam kerdus. Sampai sekarang, aku masih mencintai sepatu, diam-diam. Ibu yang mengerti perasaanku tetap membelikan aku sepatu seperti yang ayah lakukan. Walau setelah itu aku akan berpura-pura tidak suka atau hanya menyimpannya di dalam lemari. Sebesar apapun usahaku untuk mencoba tidak peduli, sepatu-sepatu itu membuatku merasa dekat sekali dengan ayah.

Ayah menyerah oleh penyakitnya beberapa bulan yang lalu. Sepuluh tahun ayah melawan stroke namun akhirnya kalah juga. Kejadian itu menjadi pukulan terberat untukku, untuk keluargaku. Tapi aku Titanium, aku bukan ayah. Aku tidak boleh menyerah.

Selesai membereskan sepatu dan merapikan sedikit meja rias ibu, aku mengambil tasku dan hendak menuju kamar. Kamarku tepat di sebelah kamar Ibu. Namun tiba-tiba kepalaku pusing, rasanya berat. Aku menahan rasa sakit sambil berjalan. Ia datang lagi.

***

‘Tita, bangun Tita, lihat apa yang Ayah bawa.’ Ayah membelai rambutku di samping tempat tidur. Ayah terlihat sangat bahagia.

‘A.. Ayah? Ayah, ini sungguh Ayah?’ Aku mengucek-ucek mata, tak percaya apa yang kulihat.

‘Ya sayang, ini ayah. Kamu bangun Nak, jangan terbaring seperti ini. Lihat, ayah bawakan kamu sepatu yang kamu suka. Lihat warnanya, warna kesukaanmu kan?’ Ayah memperlihatkan flat shoes berpita biru, cantik sekali.

‘Ya Ayah, itu bagus, tapi aku tak suka.’ Jawabku berbohong.

‘Kenapa Nak? Kenapa kamu tidak suka?’

‘Karena ayah pergi meninggalkan aku. Ayah menjauhiku. Ayah bilang sepatu akan mengusir roh-roh jahat. Ayah bilang sepatu selalu diciptakan berpasangan dan tidak akan berpisah. Tapi ayah pergi meninggalkan Ibu. Aku hanya punya satu sepatu, bagaimana mungkin aku bisa berdiri seimbang….’ Aku terisak, menangis tersedu.

‘Maafkan ayah, Nak. Ayah bukan Titanium seperti Tita. Berdiri dengan satu sepatu memang membuatmu tidak seimbang. Jadi, lupakan sepatu lamamu. Carilah keseimbangan lain, cari kebahagiaan hidupmu sendiri, sama halnya dengan sepatu. Jika sudah tak nyaman, maka buang, Nak. Kamu akan berdiri seimbang dengan sepatu barumu. Lupakan masa lalu yang menyiksamu seperti ini, relakan Ayah, Titanium.’ Bayangan ayah tiba-tiba menghilang. Aku berusaha mengejar ayah sambil berteriak. Tapi kakiku terasa sakit sekali, tanganku tak bisa digerakkan. Aku tak bisa mengejar ayah.

Tiba-tiba, kurasakan sebuah tangan menggenggam tanganku. Aku membalas genggaman itu lebih erat. Mataku terbuka. Ada seseorang di samping tempat tidurku sedang menangis. Untuk beberapa saat aku menyadari bahwa aku sedang terbaring di rumah sakit, lagi.

‘Taaa, lo bangun taa, ya Allah akhirnya lo bangun juga Taa!!’ Saras memelukku erat. Efek obat infus yang mengalir dalam tubuhku memang cukup dahsyat. Aku masih kebingungan.

‘Ibu? Ibu?’ Aku mencoba menanyakan dimana Ibu. Beliau pasti sudah kalang kabut melihat aku terbaring seperti ini.

‘Nyokap lo gue suruh pulang, Ta. Nyokap lo butuh istirahat, dari kemarin beliau nungguin lo disini. Belum lagi katanya nanti sore ada rapat direksi. Jadi tadi gue nawarin nyokap lo buat gantian jagain lo disini. Ta, maafin gue ya,’ Saras terisak. Baru kali ini aku melihat Saras menangis sesedih ini. Jauh lebih sedih ketika dia diputusin pacarnya dua bulan lalu.

‘Kenapa mesti minta maaf Ras?’Aku mencoba meraih tangannya, mencoba menenangkan Saras.

‘Udah haampir delapan tahun kita temenan, gue.. gue baru tahu sekarang kalo lo mengidap leukopenia2, Ta, maafin gue..’ Saras masih terisak. Rasanya aku ingin bangun dari tempat tidur dan memeluknya erat.

‘Iya Ras, lo jangan nangis gitu dong, gue kan jadi sedih..’ Aku menahan tangis.

‘Iya…Iya..sorry ya Ta.. Oya, ini ada bingkisan dari karyawan nyokap lo. Katanya, bokap lo nitipin ini sama dia beberapa bulan yang lalu sebelum beliau pergi. ‘ Saras menyerahkan sebuah bingkisan yang dibungkus dengan sangat cantik. Ada hiasan bunga mawar biru disana.

‘Terus kenapa baru dikasih ke gue sekarang, Ras?’

‘Hmm dia bilang baru selesai tugas dari Hongkong Ta, jadi baru sempet dikasih lo sekarang deh. Oya, dia juga titip salam buat lo..’

‘Oh.. boleh bantu gue buka ini nggak?’ Aku penasaran apa yang dititipkan ayah pada karyawannya. Kenapa ayah nggak ngasih ke aku langsung?

Saras membuka bingkisan cantik itu dan mengeluarkan isinya. Aku tercengang. Benda ini..

Titanium, sepasang sepatu tidak pernah berpisah. Ini sepatu barumu, Ayah sayang padamu, Nak. Jangan menyerah pada penyakitmu ya, jangan seperti ayah.

Sepucuk surat yang ayah tulis sebelum beliau pergi. Surat yang berada dalam bingkisan cantik bersama dengan sepasang sepatu. Sepatu yang mirip sekali dengan sepatu yang pertama kali dibelikan ayah dan aku hilangkan pasangannya.

‘Ayah, sepatu ini hilang sebelah, aku mau sepatu yang ini..’ Aku merengek begitu tahu sepatu kesayanganku hilang dan tinggal sebelah.

‘Jangan menangis, Nak. Nanti ayah belikan yang baru ya..’ Ayah merangkulku.

‘Tidak, Ayah, aku mau yang seperti ini, aku mau pakai sebelah saja!’ Aku bersikeras ingin memakai sepatu berpita biru itu.

‘Hey, dengar sayang, kalau kamu hanya pakai sebelah, jalanmu tidak akan seimbang. Setiap sepatu selalu berpasangan.’

Aku menutup mata, tidak menangis. Aku Titanium, Ayah.

 ____________________________________________________________

  1. Kebiasaan ini ditemukan oleh Doktor Ian Evans, sejarawan Australia yang melakukan penelitian selama enam tahun.
  2. Leukopenia adalah penyakit kekurangan sel darah putih dan berkurangnya kekebalan tubuh.

-THE END-

Susan dan Sepatu Barunya

Prepared by Client:
Connie Wong (@Dear_Connie)

Pernahkah kamu melihat padang rumput yang berwarna biru muda dan langit yang berwarna hijau daun? Kalau belum, bisa jadi kita belum pernah bertemu. Itu tempat tinggalku. Dimana matahari bertekstur merah jambu dan bulan bercorak ungu keperakan.

Namaku Susan. Kulitku seperti sawo matang, dan rambutku tergerai panjang. Aku memiliki sepasang mata yang paling damai yang pernah kau lihat. Mataku adalah tempat berteduh orang-orang kesepian dan butuh sekedar pelukan. Mereka tidak tahu, bahwa sebenarnya aku pun kesepian. Aku bahkan butuh lebih dari sekedar pelukan.

Aku hidup bersama Tuanku yang budiman. Dia memang menyayangiku dan memberikan apa pun yang aku butuhkan, tapi seperti mahluk lainnya, aku butuh dari sekedar rasa cukup. Aku butuh seorang sahabat, bukan banyak teman. Aku butuh rasa aman, bukan sekedar rasa nyaman. Aku butuh memberi, bukan hanya sekedar diberi.

***

Pada suatu hari Minggu yang cerah, sinar matahari yang jatuh ke bumi membuat kulitku bersinar. Hari ini aku diajak Tuanku berjalan-jalan. Kau tahu kemana dia membawaku? Ke seorang Pandai Sepatu! Seperti gadis-gadis seumurku, aku suka berdandan. Kau boleh percaya atau tidak, tapi aku belum pernah memiliki sepasang sepatu pun seumur hidup. Jadi dapat kau bayangkan betapa gembiranya aku ketika diajak ke tempat ini!

Sang Pandai Sepatu jatuh cinta pada pandangan pertama ketika melihatku. Tuanku terlihat sangat bangga ketika orang itu mengelus rambutku.

“Mengapa baru sekarang kau bawa anak cantik ini ke sini?”, kata si Pandai Sepatu. “Aku baru sempat. Lagi pula dia masih terlalu muda ketika ku bawa dia pertama kali ke rumahku. Dan sekarang, aku merasa sudah waktunya dia memakai sepatu,” Tuanku menjawab dengan senyum lebar. Matanya berbinar.

Lalu si Pandai Sepatu merapikan kuku-kukuku. Aku merasa seperti seorang puteri. Tak heran kalau para perempuan senang dimanjakan di salon kecantikan. Begitu yang sering ku dengar dari gadis-gadis dan ibu-ibu yang sering lewat di depan rumahku. Mereka juga sering menyerahkan kuku-kukunya di tangan para ahli kecantikan di salon. Aku sendiri belum pernah ke sana. Entah mengapa. Tuanku tidak pernah mengajakku, dan aku juga tidak pernah bertanya.

Tapi… hatiku mulai cemas ketika si Pandai Sepatu membawa martil! Apa yang akan dia lakukan terhadapku?

“Gadis cantikmu ini kukunya terlalu keras. Maafkan jika aku harus merapikan kukunya dengan martil,” ujar si Pandai Sepatu.

“Tuhanku! Tuanku! Tolong aku! Aku tidak ingin dia memotong kuku-kukuku dengan alat itu! “

Aku hanya dapat menjerit dalam hati. Mulutku bungkam, karena aku terlalu takut untuk berteriak. Yang dapat aku lakukan hanyalah memejamkan kedua belah mataku. Semoga dengan begitu aku tidak perlu merasa terlalu kesakitan.

Aku masih merasakan tangan-tangan sang Pandai Sepatu di antara jemari kakiku. Dan anehnya, aku tak merasa sakit sedikit pun! Ajaib! Seingatku, dia tidak menyuntikku dengan obat bius tadi, tapi mengapa aku merasa baik-baik saja?

“Ini sepatu pesananmu untuk si cantik ini, Tuan. Coba tolong dilihat dulu, apakah bentuk dan warnanya sudah sesuai dengan keinginan Tuan?” kata si Pandai Sepatu. Sungguh. Aku sangat penasaran dan ingin melihat bentuk sepatu itu, tapi rasa ketakutanku masih belum hilang. Jadi aku memutuskan untuk terus menutup mata.

“Ah! Ini sepatu yang paling cantik yang pernah ku lihat! Ini sangat cocok dan ukurannya pun sangat pas dengan kaki Susanku yang cantik!”

Tak lama setelah itu, aku dengar dentingan logam. Dan sepatu yang dibuat oleh si Pandai Sepatu pun mulai dipasangkan pada kaki-kakiku. Bunyi paku dan martil silih berganti memekakkan telinga. Sungguh bising. Tapi tak semili pun berani ku buka mataku. Aku memilih untuk melihat apa yang terjadi nanti saja sampai…

“Susan! Coba buka matamu, dan lihat kakimu! Kamu adalah kuda betina paling cantik yang pernah aku lihat! Dan sekarang kecantikanmu dilengkapi dengan dua pasang kaki yang kuat!” Tuanku membuatku terkejut dengan suaranya yang menggelegar. Perlahan ku buka mataku. Dan, Tuhan! Dua pasang ladam yang paling indah telah menempel di kaki-kakiku!

***

Dalam perjalanan pulang dari si Pandai Sepatu, aku tak henti-hentinya tersenyum lebar. Sinar mataku bahkan melebihi terangnya cahaya matahari siang itu! Aku berjalan dengan genitnya, dan memamerkan kedua pasang sepatuku kepada semua perempuan yang ku temui di jalan – baik manusia, maupun para kuda. Dan kau boleh percaya atau tidak, mereka semua memandangku dengan iri!

Kata Tuanku, mulai hari ini aku akan lebih sering diajaknya berjalan-jalan. Aku senang sekali! Pasti aku akan mempunyai lebih banyak teman nanti. Sekarang aku baru tahu, mengapa dulu aku tak diijinkannya keluar dari rumah – karena dia takut kakiku terluka. Hari ini aku belajar, bahwa ketika aku merasa aku dikekang, itu sebetulnya karena aku dilindungi oleh Tuanku. Bodohnya aku! Mengapa aku tak berpikir seperti ini sebelumnya? Ah, cara berpikirku mungkin memang terlalu sempit…

Aku juga tidak iri dengan bangsa manusia yang mempunyai sepatu dalam jumlah banyak. Aku puas dengan apa yang aku miliki. Untuk apa mempunyai banyak sepatu jika aku sudah mempunyai dua pasang sepatu untuk kedua pasang kakiku dan sepatu-sepatuku adalah sepatu yang kuat, yang sanggup melindungi kaki-kakiku dan membawaku berlari kemana pun aku mau?

Bahkan kabarnya, di sebuah negera antah berantah, ada seorang Ratu yang mempunyai ribuan pasang sepatu. Untuk apa? Toh kakinya hanya sepasang? Toh akhirnya ketika beliau mangkat pun, hanya sepasang sepatu yang dapat dibawanya ke liang lahat!

Untuk apa serakah, jika keserakahan tidak dapat mendatangkan bahagia, bahkan lebih banyak lagi keserahakan?

Dengan hanya memakai sepatu yang ini-ini saja, bahkan tanpa pernah bisa melepasnya, aku merasa punya keterikatan khusus dengan sepatuku. Aku belajar setia. Aku belajar bersyukur atas apa yang aku miliki. Aku belajar bahwa bahagia itu adalah merasa puas akan apa yang ada, dan bukan selalu merasa harus memiliki apa yang belum dan tidak aku miliki.

Dengan sepatuku ini, aku akan lebih mampu untuk memberi. Aku dapat bekerja lebih kuat, berjalan lebih jauh. Mungkin beginilah seharusnya hidup itu. Saling menguatkan dan terus dijalani bersama tanpa harus sering mengeluh.

Malam nanti, ketika bulan yang berwarna ungu keperakan itu muncul – aku akan menari di bawah pantulan cahayanya. Kau boleh ikut menari bersamaku, bahkan kau boleh membawa gendang dan rebana. Kita rayakan kehidupan. Kita rayakan hari ini – hari pertemuanku dengan kedua pasang sepatu besiku.

Dan kita akan terus bersulang, minum jus rumput sampai mabuk, hingga kita lupa bahwa ada paku yang menempel di telapak kaki kita. Karena tanpa derita, tidak ada yang patut untuk dirayakan.

Aku tunggu.

– THE END –

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,929 other followers